Pembuatan dan penambangan garam yang dilakukan oleh PT. Garam merupakan potensi wisata minat khusus yang dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi. Proses pembuatan garam mulai dari pemetakan tanah, kemudian diiisi air dengan kadar garam rendah, lalu setelah beberapa hari didiamkan, air dari beberapa petak digabungkan sampai mencapai kadar garam 21 derajat, setelah itu air tersebut didiamkan sampai terbentuk kristal-kristal garam yang siap dipanen.
Setelah dipanen, garam yang terkumpul membentuk sebuah pemandangan yang indah seperti bukit-bukit garam yang berwarna putih di seluruh areal pembuatan garam. Garam yang telah terkumpul kemudian diangkut ke dalam pabrik untuk dilakukan iodiumisasi. Proses pembuatan garam mulai awal sampai menjadi produk yang siap jual membutuhkan waktu cukup lama yaitu bulan Mei sampai bulan Nopember.
Proses pembuatan garam ini sangat menarik untuk dapat disajikan pada wisatawan, tinggal bagaimana mengemasnya agar dapat disajikan dengan baik dan menarik.Pada waktu tentara perang kerajaan klungkung Bali kalah Perang melawan Lor dan Pangeran Weta (Raja Sumenep) dan ketika itu semua perahunya di hancurkan, pada waktu itu pula datanglah pangeran ANGGASETO yang berjasa karena menyelamatkan para tentara Bali yang sudah terdesak. Ketika kalah perang melawan pasukan Keraton Sumenep. Dalam peristiwa tersebut Pangeran Anggaseto siap memberi jaminan kepada Pangeran Sumenep bahwa para tentara Bali yang sudah kalah akan menjadi tanggungan dirinya. Sehingga sampai saat ini sisa tentara perang bisa hidup damai bersama penduduk asli.
Setelah Pangeran Anggaseto menetap di pinggir papas, beliau mengajarkan kepada para masyarakat untuk bertani garam. Hal ini masih banyak kita jumpai di pinggir papas para murid Pangeran Anggaseto sampai sekarang yang masih bertani garam dan bahkan menjadikan sebagai mata pencaharian keluarga. Penghasil garam terbanyak di Kabupaten Sumenep berada di Kalianget, memperoleh predikat garam terbagus kualitasnya termasuk juga garam beryodiumnya se-Madura sehingga Sumenep terkenal
dengan sebutan pulau garam.
Untuk mengenang Panglima Anggaseto selaku perintis pembuatan garam di Sumenep, maka masyarakat desa Pinggir Papas mengadakan Nadar atau niat untuk melakukan ritual tiap tahun yang sampai sekarang dikenal dengan Nyadar. Ladang garam terbentang luas di daerah Pinggir Papas, Karang Anyar, Nambakor dan ada pula di Desa Gersek Putih Kec. Gapura.
Air laut adalah bahan baku utama untuk pembuatan Garam, akan tetapi air laut untuk dijadikan garam butuh proses yaitu dengan menyediakan lahan yang telah dipetak-petak yang biasa disebut MINIAN yang ukurannya ±15 x 25 m sebanyak 4 sampai 5 petak yang nantinya digunakan untuk menampung dan menyaring air laut sehingga tinggal padatan saja berupa kristal-kristal garam. Adapun cara untuk memperoleh garam adalah sebagai berikut; lima petak tanah diisi dengan air laut mentah (belum terjemur), kemudian 1 atau 2 petak tadi dikeringkan, setelah kering, tanah di ratakan dengan menggunakan rol yang dilakukan berulang-ulang, setelah tanah cukup rata kemudian siram atau isi tanah dengan air laut yang ada di petak lain, setelah agak kering ditambah lagi airnya dan begitu seterusnya sampai air yang ada di petak lain habis, sehingga dari 5 petak tanah, garam yang dihasilkan hanya 2 petak tanah. Adapun lama air laut menjadi garam membutuhkan waktu 10 sampai 15 hari. Pembuatan garam bisa dibuat pada musim kemarau tiba antara bulan Juli sampai dengan Desember, sedangkan saat ini luas lahan yang tersedia untuk petani garam hanya ±2876.96 Ha.
Pembuatan dan penambangan garam yang dilakukan oleh PT. Garam merupakan potensi wisata minat khusus yang dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi. Proses pembuatan garam mulai dari pemetakan tanah, kemudian diiisi air dengan kadar garam rendah, lalu setelah beberapa hari didiamkan, air dari beberapa petak digabungkan sampai mencapai kadar garam 21 derajat, setelah itu air tersebut didiamkan sampai terbentuk kristal-kristal garam yang siap dipanen.
Setelah dipanen, garam yang terkumpul membentuk sebuah pemandangan yang indah seperti bukit-bukit garam yang berwarna putih di seluruh areal pembuatan garam. Garam yang telah terkumpul kemudian diangkut ke dalam pabrik untuk dilakukan iodiumisasi. Proses pembuatan garam mulai awal sampai menjadi produk yang siap jual membutuhkan waktu cukup lama yaitu bulan Mei sampai bulan Nopember.
Proses pembuatan garam ini sangat menarik untuk dapat disajikan pada wisatawan, tinggal bagaimana mengemasnya agar dapat disajikan dengan baik dan menarik.Pada waktu tentara perang kerajaan klungkung Bali kalah Perang melawan Lor dan Pangeran Weta (Raja Sumenep) dan ketika itu semua perahunya di hancurkan, pada waktu itu pula datanglah pangeran ANGGASETO yang berjasa karena menyelamatkan para tentara Bali yang sudah terdesak. Ketika kalah perang melawan pasukan Keraton Sumenep. Dalam peristiwa tersebut Pangeran Anggaseto siap memberi jaminan kepada Pangeran Sumenep bahwa para tentara Bali yang sudah kalah akan menjadi tanggungan dirinya. Sehingga sampai saat ini sisa tentara perang bisa hidup damai bersama penduduk asli.
Setelah Pangeran Anggaseto menetap di pinggir papas, beliau mengajarkan kepada para masyarakat untuk bertani garam. Hal ini masih banyak kita jumpai di pinggir papas para murid Pangeran Anggaseto sampai sekarang yang masih bertani garam dan bahkan menjadikan sebagai mata pencaharian keluarga. Penghasil garam terbanyak di Kabupaten Sumenep berada di Kalianget, memperoleh predikat garam terbagus kualitasnya termasuk juga garam beryodiumnya se-Madura sehingga Sumenep terkenal dengan sebutan pulau garam.
Untuk mengenang Panglima Anggaseto selaku perintis pembuatan garam di Sumenep, maka masyarakat desa Pinggir Papas mengadakan Nadar atau niat untuk melakukan ritual tiap tahun yang sampai sekarang dikenal dengan Nyadar. Ladang garam terbentang luas di daerah Pinggir Papas, Karang Anyar, Nambakor dan ada pula di Desa Gersek Putih Kec. Gapura.
Air laut adalah bahan baku utama untuk pembuatan Garam, akan tetapi air laut untuk dijadikan garam butuh proses yaitu dengan menyediakan lahan yang telah dipetak-petak yang biasa disebut MINIAN yang ukurannya ±15 x 25 m sebanyak 4 sampai 5 petak yang nantinya digunakan untuk menampung dan menyaring air laut sehingga tinggal padatan saja berupa kristal-kristal garam. Adapun cara untuk memperoleh garam adalah sebagai berikut; lima petak tanah diisi dengan air laut mentah (belum terjemur), kemudian 1 atau 2 petak tadi dikeringkan, setelah kering, tanah di ratakan dengan menggunakan rol yang dilakukan berulang-ulang, setelah tanah cukup rata kemudian siram atau isi tanah dengan air laut yang ada di petak lain, setelah agak kering ditambah lagi airnya dan begitu seterusnya sampai air yang ada di petak lain habis, sehingga dari 5 petak tanah, garam yang dihasilkan hanya 2 petak tanah. Adapun lama air laut menjadi garam membutuhkan waktu 10 sampai 15 hari. Pembuatan garam bisa dibuat pada musim kemarau tiba antara bulan Juli sampai dengan Desember, sedangkan saat ini luas lahan yang tersedia untuk petani garam hanya ±2876.96 Ha.
Setelah dipanen, garam yang terkumpul membentuk sebuah pemandangan yang indah seperti bukit-bukit garam yang berwarna putih di seluruh areal pembuatan garam. Garam yang telah terkumpul kemudian diangkut ke dalam pabrik untuk dilakukan iodiumisasi. Proses pembuatan garam mulai awal sampai menjadi produk yang siap jual membutuhkan waktu cukup lama yaitu bulan Mei sampai bulan Nopember.
Proses pembuatan garam ini sangat menarik untuk dapat disajikan pada wisatawan, tinggal bagaimana mengemasnya agar dapat disajikan dengan baik dan menarik.Pada waktu tentara perang kerajaan klungkung Bali kalah Perang melawan Lor dan Pangeran Weta (Raja Sumenep) dan ketika itu semua perahunya di hancurkan, pada waktu itu pula datanglah pangeran ANGGASETO yang berjasa karena menyelamatkan para tentara Bali yang sudah terdesak. Ketika kalah perang melawan pasukan Keraton Sumenep. Dalam peristiwa tersebut Pangeran Anggaseto siap memberi jaminan kepada Pangeran Sumenep bahwa para tentara Bali yang sudah kalah akan menjadi tanggungan dirinya. Sehingga sampai saat ini sisa tentara perang bisa hidup damai bersama penduduk asli.
Setelah Pangeran Anggaseto menetap di pinggir papas, beliau mengajarkan kepada para masyarakat untuk bertani garam. Hal ini masih banyak kita jumpai di pinggir papas para murid Pangeran Anggaseto sampai sekarang yang masih bertani garam dan bahkan menjadikan sebagai mata pencaharian keluarga. Penghasil garam terbanyak di Kabupaten Sumenep berada di Kalianget, memperoleh predikat garam terbagus kualitasnya termasuk juga garam beryodiumnya se-Madura sehingga Sumenep terkenal
dengan sebutan pulau garam.
Untuk mengenang Panglima Anggaseto selaku perintis pembuatan garam di Sumenep, maka masyarakat desa Pinggir Papas mengadakan Nadar atau niat untuk melakukan ritual tiap tahun yang sampai sekarang dikenal dengan Nyadar. Ladang garam terbentang luas di daerah Pinggir Papas, Karang Anyar, Nambakor dan ada pula di Desa Gersek Putih Kec. Gapura.
Air laut adalah bahan baku utama untuk pembuatan Garam, akan tetapi air laut untuk dijadikan garam butuh proses yaitu dengan menyediakan lahan yang telah dipetak-petak yang biasa disebut MINIAN yang ukurannya ±15 x 25 m sebanyak 4 sampai 5 petak yang nantinya digunakan untuk menampung dan menyaring air laut sehingga tinggal padatan saja berupa kristal-kristal garam. Adapun cara untuk memperoleh garam adalah sebagai berikut; lima petak tanah diisi dengan air laut mentah (belum terjemur), kemudian 1 atau 2 petak tadi dikeringkan, setelah kering, tanah di ratakan dengan menggunakan rol yang dilakukan berulang-ulang, setelah tanah cukup rata kemudian siram atau isi tanah dengan air laut yang ada di petak lain, setelah agak kering ditambah lagi airnya dan begitu seterusnya sampai air yang ada di petak lain habis, sehingga dari 5 petak tanah, garam yang dihasilkan hanya 2 petak tanah. Adapun lama air laut menjadi garam membutuhkan waktu 10 sampai 15 hari. Pembuatan garam bisa dibuat pada musim kemarau tiba antara bulan Juli sampai dengan Desember, sedangkan saat ini luas lahan yang tersedia untuk petani garam hanya ±2876.96 Ha.
Pembuatan dan penambangan garam yang dilakukan oleh PT. Garam merupakan potensi wisata minat khusus yang dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi. Proses pembuatan garam mulai dari pemetakan tanah, kemudian diiisi air dengan kadar garam rendah, lalu setelah beberapa hari didiamkan, air dari beberapa petak digabungkan sampai mencapai kadar garam 21 derajat, setelah itu air tersebut didiamkan sampai terbentuk kristal-kristal garam yang siap dipanen.
Setelah dipanen, garam yang terkumpul membentuk sebuah pemandangan yang indah seperti bukit-bukit garam yang berwarna putih di seluruh areal pembuatan garam. Garam yang telah terkumpul kemudian diangkut ke dalam pabrik untuk dilakukan iodiumisasi. Proses pembuatan garam mulai awal sampai menjadi produk yang siap jual membutuhkan waktu cukup lama yaitu bulan Mei sampai bulan Nopember.
Proses pembuatan garam ini sangat menarik untuk dapat disajikan pada wisatawan, tinggal bagaimana mengemasnya agar dapat disajikan dengan baik dan menarik.Pada waktu tentara perang kerajaan klungkung Bali kalah Perang melawan Lor dan Pangeran Weta (Raja Sumenep) dan ketika itu semua perahunya di hancurkan, pada waktu itu pula datanglah pangeran ANGGASETO yang berjasa karena menyelamatkan para tentara Bali yang sudah terdesak. Ketika kalah perang melawan pasukan Keraton Sumenep. Dalam peristiwa tersebut Pangeran Anggaseto siap memberi jaminan kepada Pangeran Sumenep bahwa para tentara Bali yang sudah kalah akan menjadi tanggungan dirinya. Sehingga sampai saat ini sisa tentara perang bisa hidup damai bersama penduduk asli.
Setelah Pangeran Anggaseto menetap di pinggir papas, beliau mengajarkan kepada para masyarakat untuk bertani garam. Hal ini masih banyak kita jumpai di pinggir papas para murid Pangeran Anggaseto sampai sekarang yang masih bertani garam dan bahkan menjadikan sebagai mata pencaharian keluarga. Penghasil garam terbanyak di Kabupaten Sumenep berada di Kalianget, memperoleh predikat garam terbagus kualitasnya termasuk juga garam beryodiumnya se-Madura sehingga Sumenep terkenal dengan sebutan pulau garam.
Untuk mengenang Panglima Anggaseto selaku perintis pembuatan garam di Sumenep, maka masyarakat desa Pinggir Papas mengadakan Nadar atau niat untuk melakukan ritual tiap tahun yang sampai sekarang dikenal dengan Nyadar. Ladang garam terbentang luas di daerah Pinggir Papas, Karang Anyar, Nambakor dan ada pula di Desa Gersek Putih Kec. Gapura.
Air laut adalah bahan baku utama untuk pembuatan Garam, akan tetapi air laut untuk dijadikan garam butuh proses yaitu dengan menyediakan lahan yang telah dipetak-petak yang biasa disebut MINIAN yang ukurannya ±15 x 25 m sebanyak 4 sampai 5 petak yang nantinya digunakan untuk menampung dan menyaring air laut sehingga tinggal padatan saja berupa kristal-kristal garam. Adapun cara untuk memperoleh garam adalah sebagai berikut; lima petak tanah diisi dengan air laut mentah (belum terjemur), kemudian 1 atau 2 petak tadi dikeringkan, setelah kering, tanah di ratakan dengan menggunakan rol yang dilakukan berulang-ulang, setelah tanah cukup rata kemudian siram atau isi tanah dengan air laut yang ada di petak lain, setelah agak kering ditambah lagi airnya dan begitu seterusnya sampai air yang ada di petak lain habis, sehingga dari 5 petak tanah, garam yang dihasilkan hanya 2 petak tanah. Adapun lama air laut menjadi garam membutuhkan waktu 10 sampai 15 hari. Pembuatan garam bisa dibuat pada musim kemarau tiba antara bulan Juli sampai dengan Desember, sedangkan saat ini luas lahan yang tersedia untuk petani garam hanya ±2876.96 Ha.








0 komentar:
Posting Komentar